Sembako, Harusnya mahal atau murah?
Hari-hari ini pembicaraan tentang kenaikan harga sembagi sangat merisaukan ibu-ibu rumah tangga karena kesulitan mengatur keuangan. Disis lain pada waktu yang bersamaan pemerintah kebingungan akan mengekspor beras karena kita surplus. Benarkah kita surplus?
Indikator apa yang menunjukkan kita surplus?
Cadangan 3 juta ton apakah dapat dipertanggungjawabkan?
Sebenarnya semua kembali pada nurani.
Kita dapat menyebut diri kita kecukupan kalau tidak bingung dengan apa yang kita makan esok.
Seorang kepala keluarga akan selalu berusaha mencukupi kebutuhan anggotanya hingga tidak ada kelaparan. Seorang kepala keluarga tidak akan tega menjual beras ketika melihat ada satu anaknya yang belum makan.
Jika masih ada orang yang kelaparan, artinya ada sesuatu yang tidak berjalan. Dan sebagai kepala keluarga harus memahami ini.
Ketika rakyat kebingungan dengan harga, tak dapatkah pimpinan memberi solusi.
Ketergantungan pada ekonomi luar adalah kemustahilan untuk mandiri.
Mestinya ketika satu anak harus antri minyak, sang bapak harusnya melarang anak yang lain menjual minyak yang dimiliki demi kekayaan pribadi Anak tersayang.
Ekonomi negara memang tidak sama dengan keluarga. Tapi rakyat juga tidak dapat mengerti ketika untuk hidup kita tergantung harga dari luar.
Tak dapatkan kita mandiri?
Kita cukupi semua yang dibutuhkan masyarakat?
Darimana?
Jika produk pertanian jadi mahal di negeri agraris ini pasti ada yang salah.
Banyak ahli pertanian yang menjadikan pertanian adalah bertani yang berkait dengan orang miskin bukan sebuah kultur (agriculture) yang menjadikan pertanian adalah budaya dan kebiasaan kita.
Tak dapatkan setiap keluarga diwajibkan mampu mencukupi kebutuhan minimal dari lahan yang ada?
Tak bisakah ada kewajiban untuk menanami halaman dengan sesuatu yang menghasilkan?
Tak dapatkan memberikan kewajiban bahwa setiap orang yang memiliki bangunan 1 m2 harus memiliki lahan yang ditanami tanaman produktif dengan luas yang sama?
Tak adakah insentif bagi yang memiliki lahan produktif lebih luas dari rumahnya?
Tak adkah sistem pengolahan lahan milik pemerintah untuk dikerjakan oleh orang miskin dengan bagi hasil? Bukan malah dijadikan bangunan untuk tujuan konsumtif?
Aku sendiri tidak tahu………………..
Nampaknya orang memang sudah lebih suka memikirkan dirinya sendiri sehingga tidak tahu kalau tetangganya meninggal karena kelaparan. Atau menyalahkan mereka dengan kelaparannya yang mereka anggap malas bekerja.
Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak menjadi pengemis. Disis lain juga mengajarkan kita untuk berbagi dengan tetangga sehingga tidak dikenal adanya orang kelaparan di dekat orang yang mampu karena orang mampu ini takut tak mendapat barokah dari Allah akibat tetangganya yang kelaparan.
Yah andai kita memiliki indahnya pekerti yang diajarlkan Rasulullah SAW.
Tapi……………….. masih adakah yang mengikuti sunah Beliau?
Yang oleh umatnya sendiri dianggap kuno?
Semoga memang ada kesadaran di hati kita
Setidaknya kita mampu memperhatikan tetangga kita. Jangan ada lagi yang meninggal karena kelaparan karena tak mampu beli sembako sementara kita membuang makanan sis karena kita kekenyangan dan tak dapat mengukur isi perut kita dengan nafsu kita.
Andai kita saling punya empati mungkin kita tak perlu demo untuk menurunkan harga karena harga muncul akibat keserakahan kita.
Aku hanya dapat berkata semoga ……………. semoga ………… semoga
