Kemiskinan dan Upaya Menurunkannya
Pemerintah melalui pernyataan presiden bahwa pemerintah akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 10%. Data dari BPS menunjukkan bahwa jumlah rakyat miskin per Maret 2006 sebesar 39,39 juta (17,75%) dan per Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58%) data tahun 2008 belum dikeluarkan oleg BPS. Namun demikian, bagaimana menurunkannya tidak dijelaskan begitu juga dengan indikatornya. Indikator yang paling sering digunakan adalah pendapatan per kapita. Deprtemen-departemen terkait maupun LSM dn asyarakat banyak yang kurang puas sehingga ada yang mengusulkan berbagai aspek yang dipertimbangkan missal kebutuhan gizi dan sebagainya. Tingkat pendapatan per kapita jug tidak jelas besaran yang ditetapkan sebagai batas miskin.
Kalau kita cermati kondisi masyarakat sekarang ini yang banyak antri baik sembako ataupun minyak tanah dapatkan kita mengatakan tingkat kemiskinan kita turun? Ataukah banyaknya yang antri dpaty diartikan masyarakat kita semakin konsumtif dan banyak uang/kaya sehingga berebut membeli? Sehingga kita katakan sudah tidak miskin dan pemerintah kehabisan bahan untuk didistribusikan? Benarkan harga beras yang naik terus juga bukti kita makin kaya sehingga beras jadi surplus dan boleh ekspor?
Siapakah sebenarnya orang yang dikatakan miskin?
Dalam kaidah agama dibedakan antara fakir dan miskin.
Menurut mazhab Hanafi, orang fakir adalah orang yang mempunyai harta kurang dari nishab, sekalipun dia sehat dan mempunyai pekerjaan. Kalau ia mempunyai harta sampai nishab apapun bentuknya yang memenuhi kebutuhan primer, berupa tempat tinggal (rumah), alat-alat rumah tangga, dan pakaian maka tidak termasuk fakir. Menurut Syafi’I dan Hambali, orang yang mempunyai separuh dari kebutuhannya, ia tidak termasuk orang fakir.
Pengertian orang Miskin menurut Mazhab Hanafi dan Maliki orang miskin adalah orang yang keadaan ekonominya lebih buruk dari orang fakir. Sedang menurut Hambali dan Syafi’I adalah kebalikannya yaitu orang fakir adlah orang yang keadaan ekonominya lebih buruk dari orang miskin.
Manapun yang kita anut Nampak orang fakir dan miskin adalah orang yang keadaannya serba terbatas.
Say pernah mencoba untuk menghitung kebutuhan minimal hidup normal. Say beli makanan di warung pinggir jalan berupa nasi pecel lauk tempe 1 buah dan sati gelas the manis habis Rp 4.000. maka sehari say habis Rp 12.000 dalam satu bulan habis Rp 360.000,- jika standar anggota keluarga di Indonesia 4 orang maka say harus punya penghasilan untuk makan saja sebesar 4 X 360 jadi sebesar Rp 1.440.000,- maka seseorang dengan penghasilan sebesar itu baru dapat memenuhi kebutuhan makannya saja (tidak perlu masak, jika masak sudah dihitung diharga ini). Jika dia harus berangkar ke kantor/kerja, anak sekolah dan butuh pakaian maka dia harus menambah pengerluaraan untuk transport dua ribu per orang dan tabungan untuk baju/spp sekolah seribu per orang. Untuk transport 3 orang (istri dianggap tidak kerja) selama 25 hari sebesar 3 X 25 X Rp 3.000 = Rp 225.000,- untuk pakaian, spp dan kesehatan diambil 100 rb maka penghasilan minimal yang dibutuhkan adalah 1.440 rb + 225 rb dan 120 rb menjadi sebesar Rp 1.785.000 (inilah upah minimum yang harusnya diterima seorang kepala keluarga dengan 1 istri dan 2 anak) di bawah itu tentunya tidak layak. Mestinya upah sebesar itulah yang diterima minimum (kecuali dia belum berkeluarga atau istrinya ikut kerja).
Sanggupkan kita mencapainya. Menurut Mazhab yang dianut maka ditulis separuh kebutuhan, jadi angka tersebut di bagi dua maka ketemulah 800rb sebagai upah minimum agar ia tidak dianggap miskin sehingga tidak perlu takut dengan kalimat “orang miskin dan anak terlantar dipelihara Negara”
Kalau angka ini yang kita pakai, mungkin memng sedikit orang miskin di Indonesia, toh ada askeskin sehingga tidak perlu anggaran kesehatan.
Say pribada tidak tahu apakah ini benar atau salad, tapi kewajiban kita untuk membantu mereka yang kita anggap kekurangan. Kalau orang itu sehari makan sekali saja belum tentu (bukan puasa lho) akankah kita biarkan? Dan tegakah kita edngan nyaman membuang sisa makanan karena perut kita tidak cukup untuk diisi sebanyak itu?
Marilah kita saling berbagi.
