Indahnya beribadah

October 31, 2008

Nikahnya Rasulullah SAW dengan Aisyah R.A

Filed under: islam, adab


Salah satu alasan Syeh Pujiono menikahi gadis dibawah umur adalah buku ”Aisyahpun Nikah Dini” saya tidak tahu apakah dibuku tersebut dijelaskan alasan kenapa rasulullah memilih Aisyah r.a. ataukah sekdar melawan sinetron waktu itu yaitu ”Akibat Pernikahan Dini”  maka mungkin kita perlu kembali membuka buku-buku agama tentang pernikahan Rasulullah SAW termasuk dengan Aisyah r.a. dalam buku tersebut dijelaskan alasan-alasan pernikahan Rasulullah SAW

Alasan-alasan rasulullah menikahi Aisyah yang masih sangat belia adalah:

1.      Tujuan politis dari perkawinan yaitu menambah ikatan antara nabi dan Abu Bakar r.a. yang merupakan salah seorang pemimpin bangsa Arab dan untuk mempermudah maslahat diantara Nabi dan Abu Bakar karena Abu Bakarlah yang banyak memberi masukan dalam rangka menegakkan dakwah islamiyah.

2.      Kuatnya agama yang dimiliki oleh Sayyidah Aisyah, yang perumpamaannya adalah seperti seluruh sahabat wanita yang ada beserta kesuciannya. Maka tidak mungkin tergambar akan menjadi sesuatu yang ditakuti dari pernikahan tersebut. Kini kita tahu banyak sekali hadits yang diriwayatkan melalui Aisyah r.a. dibandingkan dari istri-istri Nabi yang lain.

3.      Kuatnya fisik rasulullah SAW yang bernilai sama dengan kuatnya 40 orang sahabat, sebagaimana yang terdapat di dalam sebuah hadits sahih.

 

Oleh sebab itu pernikahan seseorang dengan wanita yang jarak umurnya cukup jauh (masih belia) sebaiknya tidak dilakukan terutama apabila unsur agamanya lemah.

Hendaknya orang yang telah lanjut usia tidak tertipu dengan syahwatnya sehingga menghancurkan masa muda wanita yang dinikahinya.

Dianjurkan bagi laki-laki yang telah lanjut usia untuk tidak bergaul dengan banyak wanita. Lebih baik banyak berinfaq dan memperbaiki akhlaq. Hendaklah berlaku zuhud dan memperbanyak mengingat hari  akhir, merendahkan kehidupan duniawi.

October 29, 2008

Menikahi Wanita yang jauh lebih Muda

Filed under: islam, adab

Kisah Pujiono pimpinan Pesantren di Jambu Ambarawa yang menikahi gadis di bawah umur kemudian kini rela untuk melepaskan kembali setelah didesak banyak pihak,mengingatkan kita pada kisah yang banyak disampaikan pada pengajian-pengajian tentang keluarga sakinah tentang seorang yang menikahi gadis dengan jarak umur yang jauh dan ia sadar yelah menghilangkan masa bahagia saat muda gadis tersebut. Saya tidak tahu apakah Syeh (?) Pujiono ingin meniru kisah ini ataukah ia tidak tahu adanya kisah ini?

Al Haitsam bin Ady neriwayatkan dari Muhammad bin Ziyad, bahwa Harits bin Sahl Al Azadi mengunjungi Alqamah bin Hazm Ath-Tha’i yang merupakan salah seorang dari temannya. Kemudian ia (Harits) melihat dan mendengar salah seorang anak yang dipanggil dengan anak tiri, sedangkan ia merupakan anak (wanita) yang tercantik diantara para gadis yang ada disana. Maka Harits pun mengaguminya atau tertambat hatinya. Akan tetapi, perasaanlah yang menghalangi untuk kembali kepada keluarganya.

Maka Haritspun berkata kepada Alqamah: ”Sesungguhnya aku datang kepadamu untuk melamar. Orang melamar itu akan segera menikah, orang yang mencari pasti mendapatkannya dan orang yang mencintai itu kokoh keinginannya.”

Alqamah pun berkata kepadanya: ”Kami mengerti atas apa yang mulia inginkan, akan tetapi, kami mohon tunggulah untuk beberapa waktu agar kami mempertimbangkan terlebih dahulu kehendak yang mulia.”.

Kemudian Alqamah pergi menemui Ummu Jariyah (ibu dari anak tersebut) seraya berkata kepadanya: ”Sesungguhnya Harits (pemimpin kaumnya) dari segi kekayaan, kedudukan dan tempat tinggal, tidak memberikan pilihan kepada kita kecuali terpenuhi hajatnya. Maka ajaklah anakmu bermusyawarah dan selidikilah apa yang ada di dalam dirinya.”

Maka sang ibupun berkata kepada putrinya: ”hai anakku, sesungguhnya lelaki macam apa yang engkau dambakan, apakah lelaki yang sudah berusia 30 atau 40 tahun, terpandang dan dermawan; ataukah pemuda tampan yang ambisius dan mengagumkan apabila melihatnya?”

Maka sanga anakpun menjawab: ”Pemuda tampan wahai ibu”.

Lalu ibunya berkata: ”Orang yang berusia 30 – 40 tahun yang dermawan dan kaya tidaklah sama dengan yang usianya muda dan banyak angannya.”

Sang anak kembali berkata: ”Wahai ibuku, aku mencintai pemuda seperti penggembala yang mencintai rumput yang bagus.”

Ibunya berkata: ”wahai anakku, sesungguhnya pemuda itu sangat tertutup (misterius tida mudah untuk ditebak) dan banyak celanya.”

Ia berkata  : ”Wahai ibunda, aku takut lelaki tua mengotori pakaianku, melewatkan masa mudaku dan aku akan ditertawakan oleh teman-teman sebayaku.”

Sang ibu itu masih mendesaknya, sehingga ia menerima pendapat sang ibu. Maka harits pun menikahinya dan membawa ia (sang istri) kembali kerumahnya.

Pada suatu hari, Harits bersama istrinya duduk di teras rumah. Tiba-tiba datang para pemuda dari Bani Asad untuk mempermainkannya. Maka sang istripun menarik nafas panjang dan menangis.

Harits bertanya kepadanya: ”Apa yang membuatmu menangis?”

Sang istri menjawab: ”Tiada lagi harapan bagiku dan orang-orang tua yang menginginkanku sesuatu laksana tunas-tunas yang baru bersemi.”

Maka Haritspun berkata: ”ibumu dan aku menyebabkan kematianmu. Untuk itu sekarang pergilah kembali kepada keluargamu, sebab aku tidak pantas untukmu.”

itulah sang pemimpin yang meyadari kesalahannya setelahdia tertipu oleh nafsunya. Semoga kisah di atas mengingatkan kembali kepada para orang tua, bahwa anakpun punya masa bahagianya sendiri bukan dengan pernikahan dini.

Ada syair yang menyatakan:

Cinta hanya ciuman…………. rabaan……. dan menolong

Tiada cinta kecuali yang demikian

Maka jika bersifat menguasai

Niscaya ia akan rusak

October 28, 2008

Bunuh Diri siapa yang salah?

Filed under: islam

Mungkin kita agak heran melihat banyak orang di Indonesia kini mulai suka bunuh diri. Dulu kita hanya ahu yang melakukan adalah orang Jepang atau kalau di Indonesia mungkin dari Gunung Kidul. Tapi kenapa kini makin banyak? Mulai dari orang miskin hingga kaya, mulai dari anak-anak hingga orang tua renta , mualai dari masalah sepele hingga yang begitu ruwet baginya. Kita sering menyalahkan mereka. Kok begitu mudahnya mengakhiri hidup. Apa ga ada jalan lain? Apa ga takut dosa? Orang bunuh diri tentunya punya alasan dan alasan itu ia anggap pemecahan akhir yang mungkin sebelumnya telah ia coba namun tak pernah berhasil atau begitu takutnya menghadapi kentaan jika ia tidak bunuh diri, maka ia lakukan Hal itu. Ada beberapa titik kesalahan yang mestinya kita cermati:

1. Pada orang yang bersangkutam. Kurangnya berpikir yang panjang, takur terhadap resiko dan rendahnya keimanan mengaikbatkan bunuh diri sering menjadi puncak pengakhiran. Ketika krisis global muncul, ia begitu akut bangkrut (padahal belum tentu) jika dibicarakan bersama atau kalau bangkrut langkah apa yang harus ditemput bersama. Ia takut miskin atau bahkan malu karena selalu diejek dan disepelekan namun ia ak dapat membalas. Maka ketabahan hati dan kelapangan pikir perlu dikembangkan pada diri kita.

2. Masyarakat juga punya andil. Masyarakat sering hanya mampu menyalahkan tidak membantu menuju pemecahan. Ketika seorang stress karena hutang yang banyak akibat gagal dalam pilkada, masyarakat justru menyalahkan dan menghakiminya, istri minta cerai dan sebagainya. Ketika orang jatuh miskin, tidak dibantu malah dijauhi. Ketika orang jadi janda malah jadi gunjingan. Mau kemana mereka mengadu dan berbagi jika kita menyudutkan mereka.

3. Ulama. Sebagai benteng keimanan dari tiap agama. Kadang berkomentar yang menyudutkan. Mereka selalu menyalahkan sebagai orang yang tidak beriman. Padahal dapt tidaknya seorang beriman selain karena hidayah dari Allah, maka peran ulama sangatlah besar. Ulama wajib membimbing umat bukan menyalahkan umat. Ibarat seorang gembala maka ulama harus dapat membawa umat menujupadang gembalaan hingga mereka senang dan kenyang. Andaia gembalaannya menyimpang maka ia harus segera menggiringnya kembali menuju kumpulan umatnya, bukan memarahi atau meninggalkannya.

Sudahkan kita lakukan kebaikan untuk orang lain? Tidak dikatakan seorang itu beriman sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri

October 13, 2008

Iedhul Fitri, Lebaran dan Riyoyo

Filed under: Uncategorized, islam


Puasa telah usai dan iedhul fitri telah kita lewati. Seperti juga yang lainnya, saat lebaran inipun aku juga turut mudik. Hari pertama aku berkumpul dengan keluargaku di Malang,merasakan nikmatnya bersama keluarga, merasakan masakan istri tercinta juga tak lupa tetap nyuci baju sendiri karena ga ada pembantu. Hari kedua mulai perjalanan ke Semarang lewat pantura. Di Tol Gempol istirahat karena anak-anak pingin ke toilet. Sampai Tuban istirahat di rumah makan  walisongo Palang Tuban, meski baru pukul 11 siang tapi karena Tika perutnya agak sakit maka istirahat sambil foto-foto di tepi pantai di belakang rumah makan. Perjalanan di lanjutkan setelah makan siang dan mampir di makan putri Cempa dan pasujudan Sunan Bonang di Sluke Rembang sambil shalat dhuhur dan Ashar. Perjalanan lalu dilanjutkan dan istirahat lagi di Masjid Demak sambil lihat peninggalan para wali karena ini memang tujuan utama kenapa lewat pantura yaitu untuk lihat peninggalan para wali. Dari Demak lalu ke Semarang. Maghrib sudah sampai rumah orangtuaku.

Paginya anak-anak pergi ke Gedung Batu dan Lawang sewu bersama saudara-saudara sepupunya dinatar bulik dan budenya. Sabtu pagi menuju rumah mertua di Ngluwar Magelang dan Senin ke Jogja serta hari Rabu sudah sampai Malang lagi.

Selama di Semarang, Magelang, Jogja dan Malang akau selalu mengunjungi tetangga dan saudara untuk saling memaafkan.

Kadang aku berpikir apakah harus seperti ini setiap lebaran?

Apa sih sebenarnya makna lebaran?

Dari makna kata Ied artinya berulang-ulang yaitu suatu perayaan yang dilakukan berulang-ulang pada masa lalu yang umumnya disertai dengan pesta-pesta, lalu ketika Islam dating dilakukan perubahan dengan merayakan setelah Ramadhan dan Haji dengan tetap dianjurkan memakai pakaian yang bagus (iedhul fitri) dan menyembelih qurban (Iedhul adha). Saat Ied Rasulullah SAW menuju tanah lapang untuk shalat dan member qutbah. Orang-orang berkumpul untuk saling mengenal dan tidak ada maaf memaafkan. Saling memaafkan adalah budaya yang baik yang perlu dijaga tidak hanya saat lebaran saja. Jangan sampai kesan yang muncul lebaran adalah saat memaafkan, sehingga mau memaafkan orang saja harus nunggu lebaran.

Lebaran? Dari kata apa? Lebar artinya selesai, selesai dari apa? Apa selesai dari ujian taqwa lalu kita berpesta? Atau selesai dari menahan hawa nafsu lalu kita puaskan nafsu kita? Aku memang agak bingung, ketika awal puasa masih ada orang yang mabuk hingga meninggal dunia dan anehnya itu dilakukan orang banyak disuatu kampung dimana menahan hawa nafsunya, belum lagi selama bulan puasa banyak tawuran dengan berbagai alas an. Aku sering merasa sedih, dimana dampak puasanya?

Dampak tidak akan Nampak jika puasa kita hanya terbatas pada menahan haus dan dahaga bukan mencari taqwa. Puasa tidak menjadikan kita sadar akan pentingnya berbagi. Bagaimana akan berbagai jika saat buka kita menuntut lebih dari biasa. Maka lebaran memang menjadi lebar dari ujian dan kembali ke tindakan semula. Sayang sekali kalau puasa hanyalah lapar dan dahaga. 

Ada juga yang menyebut riyoyo dari kata riya atau pamer atau sombong, lebaran menjadikan orang berusaha untuk pamerdan berfoya-foya menunjukkan  bahwa dia mampu lebih dari yang lain. Saat mudik banyak yang ingin terlihat lebih dari yang lain, dia bangga kalau dikagumi. Malu mudik kalau tidak membawa apa-apa. Mudik kadang sebagai ajang pamer walau setelahnya harus bersusah payah untuk mengembalikan biaya pamer. Kita dianjurkan memakai pakaian  yang terbagus bukan untuk pamer tapi mneymbut hari bahagian bahwa kita telah mampu menyelesaikan perintah Allah dan menuju tempat shalat.

Aku tak tahu mana yang sedang aku lakukan, apalagi jika mengingat kisah seorang sufi yang menangis setelah shalat ied. Sahabatnya bertanya “mengapa engkau menangis hai Fulan, padahal hari ini semua orang bergembira? Aku menangis bukan karena aku sedih, tapi aka khawatir apakah amalku selama puasa diterima Allah apa tidak? Pantaskah aku bergembira sementara aku tidak tahu apakah amalku diterima Allah?

Aku bukana seorang sufi, dan akupun belum bisa yakin apakah amalaku diterima, lalu aku harus bebahagia atau bersedih?

Ya Allah hanya kepadamulah aku memohon petunjuk.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham