Indahnya beribadah

October 13, 2008

Iedhul Fitri, Lebaran dan Riyoyo

Filed under: Uncategorized, islam


Puasa telah usai dan iedhul fitri telah kita lewati. Seperti juga yang lainnya, saat lebaran inipun aku juga turut mudik. Hari pertama aku berkumpul dengan keluargaku di Malang,merasakan nikmatnya bersama keluarga, merasakan masakan istri tercinta juga tak lupa tetap nyuci baju sendiri karena ga ada pembantu. Hari kedua mulai perjalanan ke Semarang lewat pantura. Di Tol Gempol istirahat karena anak-anak pingin ke toilet. Sampai Tuban istirahat di rumah makan  walisongo Palang Tuban, meski baru pukul 11 siang tapi karena Tika perutnya agak sakit maka istirahat sambil foto-foto di tepi pantai di belakang rumah makan. Perjalanan di lanjutkan setelah makan siang dan mampir di makan putri Cempa dan pasujudan Sunan Bonang di Sluke Rembang sambil shalat dhuhur dan Ashar. Perjalanan lalu dilanjutkan dan istirahat lagi di Masjid Demak sambil lihat peninggalan para wali karena ini memang tujuan utama kenapa lewat pantura yaitu untuk lihat peninggalan para wali. Dari Demak lalu ke Semarang. Maghrib sudah sampai rumah orangtuaku.

Paginya anak-anak pergi ke Gedung Batu dan Lawang sewu bersama saudara-saudara sepupunya dinatar bulik dan budenya. Sabtu pagi menuju rumah mertua di Ngluwar Magelang dan Senin ke Jogja serta hari Rabu sudah sampai Malang lagi.

Selama di Semarang, Magelang, Jogja dan Malang akau selalu mengunjungi tetangga dan saudara untuk saling memaafkan.

Kadang aku berpikir apakah harus seperti ini setiap lebaran?

Apa sih sebenarnya makna lebaran?

Dari makna kata Ied artinya berulang-ulang yaitu suatu perayaan yang dilakukan berulang-ulang pada masa lalu yang umumnya disertai dengan pesta-pesta, lalu ketika Islam dating dilakukan perubahan dengan merayakan setelah Ramadhan dan Haji dengan tetap dianjurkan memakai pakaian yang bagus (iedhul fitri) dan menyembelih qurban (Iedhul adha). Saat Ied Rasulullah SAW menuju tanah lapang untuk shalat dan member qutbah. Orang-orang berkumpul untuk saling mengenal dan tidak ada maaf memaafkan. Saling memaafkan adalah budaya yang baik yang perlu dijaga tidak hanya saat lebaran saja. Jangan sampai kesan yang muncul lebaran adalah saat memaafkan, sehingga mau memaafkan orang saja harus nunggu lebaran.

Lebaran? Dari kata apa? Lebar artinya selesai, selesai dari apa? Apa selesai dari ujian taqwa lalu kita berpesta? Atau selesai dari menahan hawa nafsu lalu kita puaskan nafsu kita? Aku memang agak bingung, ketika awal puasa masih ada orang yang mabuk hingga meninggal dunia dan anehnya itu dilakukan orang banyak disuatu kampung dimana menahan hawa nafsunya, belum lagi selama bulan puasa banyak tawuran dengan berbagai alas an. Aku sering merasa sedih, dimana dampak puasanya?

Dampak tidak akan Nampak jika puasa kita hanya terbatas pada menahan haus dan dahaga bukan mencari taqwa. Puasa tidak menjadikan kita sadar akan pentingnya berbagi. Bagaimana akan berbagai jika saat buka kita menuntut lebih dari biasa. Maka lebaran memang menjadi lebar dari ujian dan kembali ke tindakan semula. Sayang sekali kalau puasa hanyalah lapar dan dahaga. 

Ada juga yang menyebut riyoyo dari kata riya atau pamer atau sombong, lebaran menjadikan orang berusaha untuk pamerdan berfoya-foya menunjukkan  bahwa dia mampu lebih dari yang lain. Saat mudik banyak yang ingin terlihat lebih dari yang lain, dia bangga kalau dikagumi. Malu mudik kalau tidak membawa apa-apa. Mudik kadang sebagai ajang pamer walau setelahnya harus bersusah payah untuk mengembalikan biaya pamer. Kita dianjurkan memakai pakaian  yang terbagus bukan untuk pamer tapi mneymbut hari bahagian bahwa kita telah mampu menyelesaikan perintah Allah dan menuju tempat shalat.

Aku tak tahu mana yang sedang aku lakukan, apalagi jika mengingat kisah seorang sufi yang menangis setelah shalat ied. Sahabatnya bertanya “mengapa engkau menangis hai Fulan, padahal hari ini semua orang bergembira? Aku menangis bukan karena aku sedih, tapi aka khawatir apakah amalku selama puasa diterima Allah apa tidak? Pantaskah aku bergembira sementara aku tidak tahu apakah amalku diterima Allah?

Aku bukana seorang sufi, dan akupun belum bisa yakin apakah amalaku diterima, lalu aku harus bebahagia atau bersedih?

Ya Allah hanya kepadamulah aku memohon petunjuk.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://nhidayat.blogsome.com/2008/10/13/iedhul-fitri-lebaran-dan-riyoyo/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham