Bunuh Diri siapa yang salah?
Mungkin kita agak heran melihat banyak orang di Indonesia kini mulai suka bunuh diri. Dulu kita hanya ahu yang melakukan adalah orang Jepang atau kalau di Indonesia mungkin dari Gunung Kidul. Tapi kenapa kini makin banyak? Mulai dari orang miskin hingga kaya, mulai dari anak-anak hingga orang tua renta , mualai dari masalah sepele hingga yang begitu ruwet baginya. Kita sering menyalahkan mereka. Kok begitu mudahnya mengakhiri hidup. Apa ga ada jalan lain? Apa ga takut dosa? Orang bunuh diri tentunya punya alasan dan alasan itu ia anggap pemecahan akhir yang mungkin sebelumnya telah ia coba namun tak pernah berhasil atau begitu takutnya menghadapi kentaan jika ia tidak bunuh diri, maka ia lakukan Hal itu. Ada beberapa titik kesalahan yang mestinya kita cermati:
1. Pada orang yang bersangkutam. Kurangnya berpikir yang panjang, takur terhadap resiko dan rendahnya keimanan mengaikbatkan bunuh diri sering menjadi puncak pengakhiran. Ketika krisis global muncul, ia begitu akut bangkrut (padahal belum tentu) jika dibicarakan bersama atau kalau bangkrut langkah apa yang harus ditemput bersama. Ia takut miskin atau bahkan malu karena selalu diejek dan disepelekan namun ia ak dapat membalas. Maka ketabahan hati dan kelapangan pikir perlu dikembangkan pada diri kita.
2. Masyarakat juga punya andil. Masyarakat sering hanya mampu menyalahkan tidak membantu menuju pemecahan. Ketika seorang stress karena hutang yang banyak akibat gagal dalam pilkada, masyarakat justru menyalahkan dan menghakiminya, istri minta cerai dan sebagainya. Ketika orang jatuh miskin, tidak dibantu malah dijauhi. Ketika orang jadi janda malah jadi gunjingan. Mau kemana mereka mengadu dan berbagi jika kita menyudutkan mereka.
3. Ulama. Sebagai benteng keimanan dari tiap agama. Kadang berkomentar yang menyudutkan. Mereka selalu menyalahkan sebagai orang yang tidak beriman. Padahal dapt tidaknya seorang beriman selain karena hidayah dari Allah, maka peran ulama sangatlah besar. Ulama wajib membimbing umat bukan menyalahkan umat. Ibarat seorang gembala maka ulama harus dapat membawa umat menujupadang gembalaan hingga mereka senang dan kenyang. Andaia gembalaannya menyimpang maka ia harus segera menggiringnya kembali menuju kumpulan umatnya, bukan memarahi atau meninggalkannya.
Sudahkan kita lakukan kebaikan untuk orang lain? Tidak dikatakan seorang itu beriman sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri
