Indahnya beribadah

January 10, 2009

Sombong

Filed under: islam, adab

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `Alaihi Wa sallam, beliau bersabda,
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi". Seorang laki-laki bertanya, "Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus. (Apakah termasuk kesombongan? )" Beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". (HR Muslim No. 2749
dalam Shahih Muslim)

  Seseorang yang "sombong" itu menunjuk-nunjukkan bahwa dirinya besar sedangkan selain dirinya kecil. Padahal, hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Besar. Sikap sombong inilah yang menyebabkan Iblis tidak mau tunduk pada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kisah tentang Nabi Adam `alaihi sallam. Akibatnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganggap Iblis sebagai kafir sehingga mengganjar dengan neraka. Dengan demikian, mestinya kita tidak boleh sombong dalam keadaan apa pun.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, `Tunduklah kamu kepada Adam’. Lalu mereka tunduk, kecuali iblis. Ia enggan dan congkak dan ia termasuk orang-orang kafir". (QS Al Baqarah [2]: 34) 

  "Dan Rabbmu berfirman, `Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina’." (QS Al Mu’min [40]:60)

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS Al Anfaal [8]: 47).

Menurut kamus, batasan "narsis" ialah sikap mengagumi atau mencintai diri sendiri berlebihan, dengan ciri-ciri: asyik dengan dirinya sendiri, kurangnya empati, tanpa disadari dikarenakan kurangnya rasa
harga diri. Adapun "sombong" mestinya merupakan akibat dari sikap "narsis" seseorang karena dia menginginkan orang-orang lain mengagumi dan memujinya. Padahal bagi seseorang yang beriman, kecintaan kepada Allah dan RasulNya seharusnya lebih daripada kepada siapa pun, termasuk kecintaan kepada diri sendiri. Kalau kita perhatikan, seseorang yang dianggap "narsis" itu tidak memberi manfaat kepada sesamanya karena dia hanya sibuk dengan dirinya. Kalaupun member manfaat, itu bukan didasarkan pada keikhlasan, namun karena pamrih.

"Tiga perkara jika seorang memilikinya, niscaya merasakan manisnya iman, (yaitu) menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya, dan mencintai seseorang hanya karena Allah, serta benci
kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan ke dalam api". (Mutafaqun `alaihi) 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham