Kisah Pujiono pimpinan Pesantren di Jambu Ambarawa yang menikahi gadis di bawah umur kemudian kini rela untuk melepaskan kembali setelah didesak banyak pihak,mengingatkan kita pada kisah yang banyak disampaikan pada pengajian-pengajian tentang keluarga sakinah tentang seorang yang menikahi gadis dengan jarak umur yang jauh dan ia sadar yelah menghilangkan masa bahagia saat muda gadis tersebut. Saya tidak tahu apakah Syeh (?) Pujiono ingin meniru kisah ini ataukah ia tidak tahu adanya kisah ini?
Al Haitsam bin Ady neriwayatkan dari Muhammad bin Ziyad, bahwa Harits bin Sahl Al Azadi mengunjungi Alqamah bin Hazm Ath-Tha’i yang merupakan salah seorang dari temannya. Kemudian ia (Harits) melihat dan mendengar salah seorang anak yang dipanggil dengan anak tiri, sedangkan ia merupakan anak (wanita) yang tercantik diantara para gadis yang ada disana. Maka Harits pun mengaguminya atau tertambat hatinya. Akan tetapi, perasaanlah yang menghalangi untuk kembali kepada keluarganya.
Maka Haritspun berkata kepada Alqamah: ”Sesungguhnya aku datang kepadamu untuk melamar. Orang melamar itu akan segera menikah, orang yang mencari pasti mendapatkannya dan orang yang mencintai itu kokoh keinginannya.”
Alqamah pun berkata kepadanya: ”Kami mengerti atas apa yang mulia inginkan, akan tetapi, kami mohon tunggulah untuk beberapa waktu agar kami mempertimbangkan terlebih dahulu kehendak yang mulia.”.
Kemudian Alqamah pergi menemui Ummu Jariyah (ibu dari anak tersebut) seraya berkata kepadanya: ”Sesungguhnya Harits (pemimpin kaumnya) dari segi kekayaan, kedudukan dan tempat tinggal, tidak memberikan pilihan kepada kita kecuali terpenuhi hajatnya. Maka ajaklah anakmu bermusyawarah dan selidikilah apa yang ada di dalam dirinya.”
Maka sang ibupun berkata kepada putrinya: ”hai anakku, sesungguhnya lelaki macam apa yang engkau dambakan, apakah lelaki yang sudah berusia 30 atau 40 tahun, terpandang dan dermawan; ataukah pemuda tampan yang ambisius dan mengagumkan apabila melihatnya?”
Maka sanga anakpun menjawab: ”Pemuda tampan wahai ibu”.
Lalu ibunya berkata: ”Orang yang berusia 30 – 40 tahun yang dermawan dan kaya tidaklah sama dengan yang usianya muda dan banyak angannya.”
Sang anak kembali berkata: ”Wahai ibuku, aku mencintai pemuda seperti penggembala yang mencintai rumput yang bagus.”
Ibunya berkata: ”wahai anakku, sesungguhnya pemuda itu sangat tertutup (misterius tida mudah untuk ditebak) dan banyak celanya.”
Ia berkata : ”Wahai ibunda, aku takut lelaki tua mengotori pakaianku, melewatkan masa mudaku dan aku akan ditertawakan oleh teman-teman sebayaku.”
Sang ibu itu masih mendesaknya, sehingga ia menerima pendapat sang ibu. Maka harits pun menikahinya dan membawa ia (sang istri) kembali kerumahnya.
Pada suatu hari, Harits bersama istrinya duduk di teras rumah. Tiba-tiba datang para pemuda dari Bani Asad untuk mempermainkannya. Maka sang istripun menarik nafas panjang dan menangis.
Harits bertanya kepadanya: ”Apa yang membuatmu menangis?”
Sang istri menjawab: ”Tiada lagi harapan bagiku dan orang-orang tua yang menginginkanku sesuatu laksana tunas-tunas yang baru bersemi.”
Maka Haritspun berkata: ”ibumu dan aku menyebabkan kematianmu. Untuk itu sekarang pergilah kembali kepada keluargamu, sebab aku tidak pantas untukmu.”
itulah sang pemimpin yang meyadari kesalahannya setelahdia tertipu oleh nafsunya. Semoga kisah di atas mengingatkan kembali kepada para orang tua, bahwa anakpun punya masa bahagianya sendiri bukan dengan pernikahan dini.
Ada syair yang menyatakan:
Cinta hanya ciuman…………. rabaan……. dan menolong
Tiada cinta kecuali yang demikian
Maka jika bersifat menguasai
Niscaya ia akan rusak