Indahnya beribadah

April 7, 2009

Guci emas

Filed under: adab

Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.” Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”
Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?” Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.” Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.” Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Dikutip dari http://www.asysyari ah.com/syariah. php?menu= detil&id_ online=777

March 14, 2009

Aqiqah

Filed under: islam, adab

Beberapa Hari yang lalu temanku Pak Mukmin baru saja melakukan Aqiqah bagi putranya yang bernama Muhammad Rizal. semoga menjadi anak yang saleh.

Beberapa hadits tentang aqiqah:

  1. Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata : Rasululloh bersabda : "Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya." (Shahih Hadits Riwayat Bukhari)
  2. Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : "Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya." (Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud)
  3. Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : "Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing." (Shahih, Hadits Riwayat Ahmad).
  4. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda : "Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing." (Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud)
  5. Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata : Rasulullah bersabda : "Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya." (Sanadnya Hasan, Hadits iwayat Ahmad)

 

January 17, 2009

Pengajian Haji

Filed under: islam, adab

Pada tanggal 4 Januari 2009 aku mendapat kepercayaan dari teman kuliahku untuk mengisi pengajian dirumahnya dalam rangka pengajian rutin jamaah haji. aku sebenarnya tidak yakin akan kemampuanku, namun karena permintaan teman kuliahku dulu maka akupun menyanggupinya,sekalian dapat  silaturahim.

pada pengajian kali ini aku menyampaikan materi, ada apa setelah haji. ini kulakukan karena semua peserta adalah haji. Haji dalam masyarakat kita telah memiliki kedudukan yang bagus, sayang hajinya sendiri sering tidak duduk dengan bagus.

aku hanya menjabarkan tentang rukun Islam kaitannya dengan haji.

Dalam islamdimuai dengan syahadat yaitu berikrar. ikrar untuk hanya mengakui Allah SWT sebagai sesembahan kita yang dimanifestasikan dengan pengamalkan Alqur’an. dan mengakui Rasulullah SAW sebagi rasul Allah dengan melakukan aktivitas kehidupan kita berdasar dan sesuai sunnah (janji ini mudah kita ucapkan) sayang dalam kehidupan kita justru sering tidak mengamalkan Al Qur’an dan hadits. Al qur’an hanya menjadi bacaan sedang hadits belum tentu ada di rumah kita.

Shalat sebagi perintah setlah kita berikrar dan mantap serta memahami,shalat masih sebagai panggilan jadi sebenarnya kita pasif sedang haji adalah penutupnya karena kita memenuhi panggilan (aktif) setelah mampu memenuhi panggilan untuk menyembahnya (shalat), memberi kelebihan harta yang kita miliki (zakat) bahkan mampu menahannya meski kita punya dan mampu (puasa), maka seorang yang berhaji adalah yang telah mampu menjawab panggilan Allah.

Setelah kita memenuhi anggilan itu,maka haji yang mabruru bukanlah haji yang beribdah untuk dirinya semata, namun mereka yang mampu menyampaikan ajaran dengan perbuatan ataupun perkataan, mampu mengajaksaudara-sauadara kita menuju ajaran agama yang benar bukannya makin asyik dengan kebid’ahan.

semoga kita mampu menjadi orang yang memahami syahadat.

 

January 10, 2009

Sombong

Filed under: islam, adab

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu `anhu, dari Nabi Shallallahu `Alaihi Wa sallam, beliau bersabda,
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi". Seorang laki-laki bertanya, "Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus. (Apakah termasuk kesombongan? )" Beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". (HR Muslim No. 2749
dalam Shahih Muslim)

  Seseorang yang "sombong" itu menunjuk-nunjukkan bahwa dirinya besar sedangkan selain dirinya kecil. Padahal, hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Besar. Sikap sombong inilah yang menyebabkan Iblis tidak mau tunduk pada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kisah tentang Nabi Adam `alaihi sallam. Akibatnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganggap Iblis sebagai kafir sehingga mengganjar dengan neraka. Dengan demikian, mestinya kita tidak boleh sombong dalam keadaan apa pun.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, `Tunduklah kamu kepada Adam’. Lalu mereka tunduk, kecuali iblis. Ia enggan dan congkak dan ia termasuk orang-orang kafir". (QS Al Baqarah [2]: 34) 

  "Dan Rabbmu berfirman, `Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina’." (QS Al Mu’min [40]:60)

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS Al Anfaal [8]: 47).

Menurut kamus, batasan "narsis" ialah sikap mengagumi atau mencintai diri sendiri berlebihan, dengan ciri-ciri: asyik dengan dirinya sendiri, kurangnya empati, tanpa disadari dikarenakan kurangnya rasa
harga diri. Adapun "sombong" mestinya merupakan akibat dari sikap "narsis" seseorang karena dia menginginkan orang-orang lain mengagumi dan memujinya. Padahal bagi seseorang yang beriman, kecintaan kepada Allah dan RasulNya seharusnya lebih daripada kepada siapa pun, termasuk kecintaan kepada diri sendiri. Kalau kita perhatikan, seseorang yang dianggap "narsis" itu tidak memberi manfaat kepada sesamanya karena dia hanya sibuk dengan dirinya. Kalaupun member manfaat, itu bukan didasarkan pada keikhlasan, namun karena pamrih.

"Tiga perkara jika seorang memilikinya, niscaya merasakan manisnya iman, (yaitu) menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya, dan mencintai seseorang hanya karena Allah, serta benci
kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan ke dalam api". (Mutafaqun `alaihi) 

November 25, 2008

Memiliki Sifat Malu

Filed under: Uncategorized, adab


Sifat malu sudah semestinya harus ada pada diri kita. Sifat malu akan membawa seseorang untuk selalu melakukan perbuatan baik. Dengan sifat malu ini seseorang akan terjada perbuatannya dan akibatnya ia akan disenangi oleh masyarakat sekitarnya, ia akan dihormati dan menjadikan orang lain segan untuk berbuat yang tidak baik.

Malu menurut Rasulullah SAW adalah tindakan yang apabila dilakukan hati merasa tidak nyaman. Jadi segala perbuatan yang apabila dilihat orang lain kita malu karenanya maka itulah malu. Oleh sebab itu malu tidak boleh digunakan pada semua sebab. Sebagai misal karena tidak mau capek bekerja maka ketika disuruh kerja ia bilang malu, ketika disuruh shalat ia malu. Ini malu yang salah yang tidak sesuai syar’i. bahkan malu termasuk cabang dari iman seperti sabda Rasulullah SAW:

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata: “Rasulullah   SAW bersabda: “Cabang iman ada enam puluh enam atau tujuh puluh lebih, yang paling utama adalah tahlil – Laa Ilaha Illalah – (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan. Dan malu termasuk bagian dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa ucapan Laa Ilaha Illalah yang selalu kita ucapkan selesai shalat atau kapan saja adlah yang tertinggi. Tahlil ini tidak hanya diucapkan namun tertanam dalam hati kita sehingga setiap langkah kita kita meyakini bahwa hanya Allah yang menjadi penolong kita. Malu terletak tidak dibagian akhir namun diantara awal dan akhir. Rasulullah pun memiliki sifat malu, sehingga para sahabat mengetahui dari raut wajahnya, seperti dalam salah satu hadits:

Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. dia berkata: ‘Rasulullah SAW memiliki sifat malu, melebihi malunya seorang gadis yang dipingit. Ketika Beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka kami akan dapat mengetahuinya melihat raut wajahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Apakah kita tidak ingin mencontoh Rasulullah yang memliki rasa malu?

Tidak malukah diri kita karena tidak mencontoh Rasulullah SAW yang memiliki rasa malu?

Sungguh memalukan seorang yang menyebut dirinya muslim tidak menjadikan Rasulullah sebagai panutannya.

October 31, 2008

Nikahnya Rasulullah SAW dengan Aisyah R.A

Filed under: islam, adab


Salah satu alasan Syeh Pujiono menikahi gadis dibawah umur adalah buku ”Aisyahpun Nikah Dini” saya tidak tahu apakah dibuku tersebut dijelaskan alasan kenapa rasulullah memilih Aisyah r.a. ataukah sekdar melawan sinetron waktu itu yaitu ”Akibat Pernikahan Dini”  maka mungkin kita perlu kembali membuka buku-buku agama tentang pernikahan Rasulullah SAW termasuk dengan Aisyah r.a. dalam buku tersebut dijelaskan alasan-alasan pernikahan Rasulullah SAW

Alasan-alasan rasulullah menikahi Aisyah yang masih sangat belia adalah:

1.      Tujuan politis dari perkawinan yaitu menambah ikatan antara nabi dan Abu Bakar r.a. yang merupakan salah seorang pemimpin bangsa Arab dan untuk mempermudah maslahat diantara Nabi dan Abu Bakar karena Abu Bakarlah yang banyak memberi masukan dalam rangka menegakkan dakwah islamiyah.

2.      Kuatnya agama yang dimiliki oleh Sayyidah Aisyah, yang perumpamaannya adalah seperti seluruh sahabat wanita yang ada beserta kesuciannya. Maka tidak mungkin tergambar akan menjadi sesuatu yang ditakuti dari pernikahan tersebut. Kini kita tahu banyak sekali hadits yang diriwayatkan melalui Aisyah r.a. dibandingkan dari istri-istri Nabi yang lain.

3.      Kuatnya fisik rasulullah SAW yang bernilai sama dengan kuatnya 40 orang sahabat, sebagaimana yang terdapat di dalam sebuah hadits sahih.

 

Oleh sebab itu pernikahan seseorang dengan wanita yang jarak umurnya cukup jauh (masih belia) sebaiknya tidak dilakukan terutama apabila unsur agamanya lemah.

Hendaknya orang yang telah lanjut usia tidak tertipu dengan syahwatnya sehingga menghancurkan masa muda wanita yang dinikahinya.

Dianjurkan bagi laki-laki yang telah lanjut usia untuk tidak bergaul dengan banyak wanita. Lebih baik banyak berinfaq dan memperbaiki akhlaq. Hendaklah berlaku zuhud dan memperbanyak mengingat hari  akhir, merendahkan kehidupan duniawi.

October 29, 2008

Menikahi Wanita yang jauh lebih Muda

Filed under: islam, adab

Kisah Pujiono pimpinan Pesantren di Jambu Ambarawa yang menikahi gadis di bawah umur kemudian kini rela untuk melepaskan kembali setelah didesak banyak pihak,mengingatkan kita pada kisah yang banyak disampaikan pada pengajian-pengajian tentang keluarga sakinah tentang seorang yang menikahi gadis dengan jarak umur yang jauh dan ia sadar yelah menghilangkan masa bahagia saat muda gadis tersebut. Saya tidak tahu apakah Syeh (?) Pujiono ingin meniru kisah ini ataukah ia tidak tahu adanya kisah ini?

Al Haitsam bin Ady neriwayatkan dari Muhammad bin Ziyad, bahwa Harits bin Sahl Al Azadi mengunjungi Alqamah bin Hazm Ath-Tha’i yang merupakan salah seorang dari temannya. Kemudian ia (Harits) melihat dan mendengar salah seorang anak yang dipanggil dengan anak tiri, sedangkan ia merupakan anak (wanita) yang tercantik diantara para gadis yang ada disana. Maka Harits pun mengaguminya atau tertambat hatinya. Akan tetapi, perasaanlah yang menghalangi untuk kembali kepada keluarganya.

Maka Haritspun berkata kepada Alqamah: ”Sesungguhnya aku datang kepadamu untuk melamar. Orang melamar itu akan segera menikah, orang yang mencari pasti mendapatkannya dan orang yang mencintai itu kokoh keinginannya.”

Alqamah pun berkata kepadanya: ”Kami mengerti atas apa yang mulia inginkan, akan tetapi, kami mohon tunggulah untuk beberapa waktu agar kami mempertimbangkan terlebih dahulu kehendak yang mulia.”.

Kemudian Alqamah pergi menemui Ummu Jariyah (ibu dari anak tersebut) seraya berkata kepadanya: ”Sesungguhnya Harits (pemimpin kaumnya) dari segi kekayaan, kedudukan dan tempat tinggal, tidak memberikan pilihan kepada kita kecuali terpenuhi hajatnya. Maka ajaklah anakmu bermusyawarah dan selidikilah apa yang ada di dalam dirinya.”

Maka sang ibupun berkata kepada putrinya: ”hai anakku, sesungguhnya lelaki macam apa yang engkau dambakan, apakah lelaki yang sudah berusia 30 atau 40 tahun, terpandang dan dermawan; ataukah pemuda tampan yang ambisius dan mengagumkan apabila melihatnya?”

Maka sanga anakpun menjawab: ”Pemuda tampan wahai ibu”.

Lalu ibunya berkata: ”Orang yang berusia 30 – 40 tahun yang dermawan dan kaya tidaklah sama dengan yang usianya muda dan banyak angannya.”

Sang anak kembali berkata: ”Wahai ibuku, aku mencintai pemuda seperti penggembala yang mencintai rumput yang bagus.”

Ibunya berkata: ”wahai anakku, sesungguhnya pemuda itu sangat tertutup (misterius tida mudah untuk ditebak) dan banyak celanya.”

Ia berkata  : ”Wahai ibunda, aku takut lelaki tua mengotori pakaianku, melewatkan masa mudaku dan aku akan ditertawakan oleh teman-teman sebayaku.”

Sang ibu itu masih mendesaknya, sehingga ia menerima pendapat sang ibu. Maka harits pun menikahinya dan membawa ia (sang istri) kembali kerumahnya.

Pada suatu hari, Harits bersama istrinya duduk di teras rumah. Tiba-tiba datang para pemuda dari Bani Asad untuk mempermainkannya. Maka sang istripun menarik nafas panjang dan menangis.

Harits bertanya kepadanya: ”Apa yang membuatmu menangis?”

Sang istri menjawab: ”Tiada lagi harapan bagiku dan orang-orang tua yang menginginkanku sesuatu laksana tunas-tunas yang baru bersemi.”

Maka Haritspun berkata: ”ibumu dan aku menyebabkan kematianmu. Untuk itu sekarang pergilah kembali kepada keluargamu, sebab aku tidak pantas untukmu.”

itulah sang pemimpin yang meyadari kesalahannya setelahdia tertipu oleh nafsunya. Semoga kisah di atas mengingatkan kembali kepada para orang tua, bahwa anakpun punya masa bahagianya sendiri bukan dengan pernikahan dini.

Ada syair yang menyatakan:

Cinta hanya ciuman…………. rabaan……. dan menolong

Tiada cinta kecuali yang demikian

Maka jika bersifat menguasai

Niscaya ia akan rusak

September 16, 2008

Zakat ala Indonesia

Filed under: Uncategorized, adab

baru-baru ini terjadi tragedi zakat di pasuruan dan juga kota-kota lain. Zakat yang tujuannya mensejahterakan kaum miskin berbuntut musibah bagi yang miskin pula.

Ada apa dengan zakat?

Kenapa orang membagi sendiri? ada beberapa alasan:

1.tidak percaya pada badan pengelola zakat yang ada, mungkin takut dikorupsi oleh pengurusnya dan tidak tahu uangnya dikemanakan, apakah sesuai dengan syariat yang ia yakini atau tidak.

2. ingin membagi sendiri sehingga jelas sampai pada yang membutuhkan dan ia melihat sendiri bahwa zakat sampai. ketika melihat yang butuh banyak maka memacu ia untuk dapat memberikan zakat lebih banyak lagi pada tahun berikutnya karena amsih banyak yang butuh.

3. sebagai alat untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang mampu dan dermawan 9semoga ini tidak terjadi atau ada di hati saudara-saudara kita)

langkah yang mestinya adalaha mereka berkoordinir dengan semua pihak untuk membaginya.atau mendatangi langsung atau pemerintah daerah proaktif, juga bdan amil zakat sehingga zakat bukan menjadi musibah

orang muslim sudah terkenal miskinnya, di Malang sebuah Vihara selalu membagikan buka ke umat Islam. kok umat Islam yang kaya tidak sadar ya untuk memberi buka?

ataukan ini memang khas Indonesia, bahwa kemiskinan adalah semua komoditas dan tontonan?

semoga kita makin sadar untuk segera mengentas kemiskinan tanpa berdebat

 zakat pasuruan

August 25, 2008

Bersin

Filed under: adab

Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Sesungguhnya Allah mencintai bersin dan membenci menguap, maka jika seseorang bersin hendaklah ia memuji Allah (membaca Alhamdulillah) , dan berhak atas muslim lain yang mendengarnya untuk mendoakan"
(HR. Bukhari).

Mengenai bersin lebih dari 3 kali, keterangan yang ada dalam buku adab bersin dan menguap yang ditulis Abu Muhammad Isma’il Ibnu Marsyud Ar-Ramiih adalah : gugurnya kewajiban kita mengucapkanTasymit (mengucapkan yarhamukallah) atas orang yang bersin tersebut.
Sebab orang yang bersin lebih dari 3x dikategorikan sedang sakit (influenza).

Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata :
Aku mendengar dari Rasul Allah Shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : "jika salah seorang diantaramu bersin, maka hendaklah berstasymit bagi yang mendengarnya. Jika lebih dari tiga, berarti dia sedang influenza, maka tidak ada tasymit setelah 3 kali" (HR. Abu Dawud)

Diriwayatkan juga oleh Salmah Ibnu Akwa’ bahwa dia telah mendengar sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ada seseorang yang bersin di dekatnya : "yarhamukallah" , kemudian orang tersebut bersin lagi, maka Rasulullah bersabda: "orang itu sedang influenza" (HR. Muslim).

Juga tidak ada doa bagi yang bersin lebih dari 3 kali, dan tidak pula diucapkan baginya "Syafaakallahu wa ‘Afaaka".
Seandainya memang disyariatkan, tentulah Rasulullah-lah sebagai hamba Allah yang pertama kali melaksanakannya.

June 10, 2008

Pelurusan Ahmadiyah, damaikah Umat Islam?

Filed under: Uncategorized, adab

SKB tentang Ahmadiyah telah diterbitkan. dalam SK itu tidak tersirat pembubaran Ahmadiyah. pemerintah hanya meminta Ahmadiyah kembali ke ajaran islam yang benar. Pembeda Ahmadiyah dengan umat Islam yang lain adalah adanya pengakuan subagai nabi bagi Mirza Ghulam Ahmad dan ini berlawanan dengan keyakinan umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan nabi terakhir.

Pertanyaannya kini:

dapatkah umat islam menjadi damai?

Siapa yang berhak meluruskan?

Sebenarnya dengan keluarnya SKB ini maka tugas umat Islam yang lain untuk merangkul warga Ahmadiyah menajdi warga Muslim. Berbaur adalah salah satu cara menuju damai. Jika kita benar maka tugas kita adalah meluruskan yang bengkok bukan mematahkan.

Ulama yang ada harus mendekati ulama Ahmadiyah. Kalau memang Ahmadiyah tidak menyimpang maka masjidnya harus dapat dipakai bersama seperti milik Muhammadiyah, NU dan sebagainya. Kita dapat shalat di masjid manasaja dan untuk siapa saja.

Dialog pelurusan perlu dilakukan dengan suasana damai, jika ada beda penafsiran maka kembalikan penafsiran sesuai Al Qur’an atau Al Hadits. hal ini penting karena selain masalah kenabian yanng nampaknya vital, sebenarnya ada pula masalah lain yang ditafsirkan sekehendak hati sehingga artinya jadi lain. masalah hari akhir masalah syurga kini jadi bertolak belakang dengan tafsiran Al Qur’an.

Umat islam dapat damai kalau setiap penafsiran selalu dikembalikan ke asalnya, bukan atas keinginan nafsunya entah dengan alasan pengetahuan atau yang lain.

Pemerintah mestinya memfasilitas pertemuan setiap adanya perbedaan sehingga perbedaan tidak lagi diselesaikan secara anarkhi.Umat i\islam mestinya tunduk pada umaroh tapi pemerintah bukanlah yang mendzalimi sehingga tidak menjadikan masyarakat ikut mendzalimi yang lain.

kini sudah saatnya setiap perbedaan dipahami sebagai bagian penafsiran, dan ketika dipertemukan maka mata hati yang mestinya bicara bukan mempertahankan pendapat demi sebuah  kepuasan. bukan dialog yang saling adu mulut tapi mencari solusi manakah yanng paling sahih dalam menggunakan hukum menuju agama.

Agama Islam hanya satu, tapi kenapa kita tidak bersatu?

ormas dapat banyak namun tak harus membuat kita terhenyak dan aad upa menginjak.

damailah Islamku, damailah saudaraku. 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham